Sabtu, 06 April 2013

perekonomian kesultanan Banten pada masa VOC

-->



BAB I
Latar Belakang
Jalur sutera yang awalnya melalui dataran tinggi, terutama bagi China yang memperdagangkan ke Timur Tengah karena berbagai rintangan. China tertarik pada wilayah Nanhai atau “Tanah di Laut Selatan”, yaitu julukan yang diberikan kepada wilayah Asia Tenggara. Jalur perdagangan mulai digantikan dengan jalur laut, kemudian abad ke-15 disusul oleh India yang muncul sebagai pasar untuk pedagang China (Guy 1986;5)
Banten menjadi kota pelabuhan jalan sutera yang penting, bahkan setelah kedatangan Islam di daerah pesisir Banten telah ada jalur perdagangan. Awal mjula Banten yang terletak di daerah pedalaman ditepian sungai Ci Banten. Sementara di pesisir Banten menjadi semakin berkembang dengan perubahan pemerintahan dan keagamaan Islam. Seperti di dalam Babad Banten setelah Hasanuddin wafat, pemerintahan diambil alih oleh Maulana Yusuf. Tembok pertahanan kota, kampung baru, sawah, ladang dan bendungan.
Ketika Belanda tiba di Banten pada tahun 1596, Banten menjadi bandar perdagangan yang penting. Kegiatan perekonomian yang berlangsung di Banten memiliki 3 pasar sehari-hari tempat mereka menjual semua barang dagangan. Pasar pertama, disebuah alun-alun sebelah timur kota,. Pada pagi hari banyak pedagang dari berbagai macam bangsa seperti Portugis, Arab, Turki, China, Quilin, Pregu, Melayu, Bengal, Gujarat, Abesinia dan India. Pasar kedua, pabean. Dan ketiga, pasar di Pacina yang diadakan sebelum atau setelah pasar lain di selenggarakan. (Rouffer dan Ijzerman 1915;110-113)

1.2       Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka terdapat beberapa permasalahan pokok dalam penulisan makalah ini, yaitu:
1.       Faktor apa saja yang menjadikan Banten sebagai jalur sutera bagi para Pedagang ?
2.       Bagaimana pengaruh perekonomian Banten pada masa Kolonial ?


BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Faktor-faktor yang menjadikan Banten sebagai Jalur Sutera
Banten menjadi icon pelabuhan jalan sutera yang penting, bahkan setelah kedatangan Islam di daerah pesisir Banten telah ada jalur perdagangan. Awal mjula Banten yang terletak di daerah pedalaman ditepian sungai Ci Banten. Sementara di pesisir Banten menjadi semakin berkembang dengan perubahan pemerintahan dan keagamaan Islam.
Faktor Geografis
Letak Banten yang sangat strategis memungkinkan banyaknya pedagang-pedagang yang berasal dari bangsa lain, yaitu yang letaknya meliputi Jalur-jalur dagang nusantara yang merupakan bagian jalur dagang Asia dan dunia.
Selain itu, Banten juga dekat dengan Selat Sunda sehingga letak Banten sangat strategis. Selat Sunda menjadi pintu masuk utama ke Nusantara bagian Timur melewati pantai Barat Sumatera bagi pedagang muslim. Setelah jatuhnya Maalaka ke tangan Portugis pada tahun 1511, pedagang Eropa datang dari ujung Selatan Afrika dan Samudera Hindia. Seperti halnya kedatangan bangsa Belanda yang memotong rute ujung Selatan dan menyebrangi samudera Hindia menuju Selat Sunda.
Faktor Agama: Kesultanan banten dirintis pendirinya oleh tiga kekuatan yaitu Cirebon, Demak dan Banten sendiri. Pelopornya masing-masing Susuhunan Jati, Fatahillah,dan Maulana Hasanuddin awal abad ke-16. Sehingga berdirinya Kesultanan Banten (Djajadiningrat, 1983;214)

2.2       Perkembangan Perekonomian di Banten
Perintis juga di dukung oleh pedagang muslim baik dari Nusantara maupun luar Nusantara sehingga pada perkembangan selanjutnya. Kesultanan Banten tampil sebagai negara maritim dengan mengutamakan pelayaran dan perdagangan, sedangkan bidang pertanian hanya sebagai unsur penunjang berupa pembukaan lahan sawah yang ditanami padi pada masa pemerintahan Maulana Yusuf (1570-1580) dan pembukaan lahan perkebunan lada (Djajadiningrat, 1983;219)
Berita tahun 1513 menyebutkan bahwa Banten merupakan daerah pengekspor beras (Cortejao, 1941:168) tetapi berita tahun 1596 bahwa beras didatangkan dari rembang dan Makassar (Rouffaer dan Ig Zerman, 1915:110-113) dan juga dari Benggala dan Pegu (Meilink-Roeloefsz, 1962:62)
Pembudidayan tanaman padi agaknya memang dilakukan disekitar kota ini, seperti yang dipaprkan babad Banten, pupuh XLVI. Menurut Djayadiningrat (1983:59), serang berarti sawah, seserangan berarti pergi ke sawah. Tidak mustahil seserangan terletak di kota Serang sekarang. Turun naiknya aktifitas penanaman padi berkaitan dengan aktifitas pasar. Disebutkan banyak penduduk mengalihkan pertaniannya ke tanaman lada, bila permintaan eksport tinggi (Chijs 1881:620). Sebaliknya  jika permintaan menurun, penduduk menanam bahan makanan misalnya padi, tebu dan sayur-sayuran (Meilink-Roeloefsz 196: 242 ; Thandrasasmita 1976:56-7). Tanaman lain yang dibudayakan dan diperdagangkan adalah cengkeh dan tembakau. Tidak mustahil keadaan ini menyebabkan produksi beras menjadi tidak sebanding dengan kebutuhan penduduk, sehingga perlu didatangkan dari luar.
Namun dampak negatif dari penanaman padi yang dianggap berlebihan di kawasan pendalaman telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang parah di Banten ini, seperti terjadi percepatan pengendapan sehingga secara tidak langsung menyebabkan kemunduran diberbagai bidang (Heriyanti, 1985).
Kegiatan pelayaran dan perdagangan memang telah ada sebelumnya, pergantian penguasa Banten dari penganut Hinduistis menjadi penganut Islam (sejak 1526)berdampak positif dengan meningkatnya perdagangan pada mas itu. Aktifitas perdagangan yang didominasi oleh pedagang muslim di nusantara. Hal itu diakui oleh Raja Sunda yang khawatir sehingga ia membatasi pedagang muslim yang masuk ke pelabuhan selat Sunda. (Cortesao, II, 1949:173)
Kebijakan terbuka dalam sistem ekonomi menjadikan Banten sebagai tempat transito Internasional dari semua pedagang tanpa mengenal bangsa, agama maupun budaya. Kebebasan keluar masuk pelabuhan Banten untuk melakukan kegiatan pelayaran dan perdagangan, asalkan tidak melanggar peraturan (Djajadiningraat, 1985:89)
\
2.3       Pengaruh Perekonomian Banten pada masa Kolonial
Pada tahun 1595 Kompeni Dagang Amsterdam mengirimkan 4 buah kapal dagang yang dipimpin oloeh Cornelis De Houtman. Tiga kapal diantaranya berhasil kembali kie Tessel dengan penuh muatan rempah-rempah. Pada tanggal 14 agustus 1596 armada dagang inilah yang pertama kali sampai di Banten. Armada dagang kedua yang sampai di Indonesia adalah armada dagang yang dipimpin oleh Jacob van Neck,  Jacob van Heemskreck dan Wybrand van Warwyck. Mulanya kedatangan mereka dicurigai, namun kemudiaan mereka diterima dengan baik setelah menjelaskan vahwa kedatangannya hanya untuk berdagang. Oleh karena itu Belanda dan banten membuat perjanjian persahabatan. Persahabatan itu tidak berlangsung lama karena timbul persaaingan perdagangan antara orang-orang Eropa yang berdgang di Banten. Namun orang-orang Belanda cenderung bersifat kasar dan menimbulkan keonaran. Akibatnya beberapa orang Belanda ditangkap oleh penguasa banten. Dan orang-orang Belanda membalas dengan menembaki Banten dari kapal-kapal mereka. Dalam suasana permusuhan, orang Belanda diusir dari Banten.
Sejak berdirinya VOC, berbagai cara dilakukan dengan menguasai pelabuhan penting yang ada di Indonesia. Belanda datang kembali untuk menjalin hubungan dagang. Ia berupaya menghasut penguasa Banten. Sehingga upaya tersebut menghasilkan perjanjian yang menegaskan kekuasaan VOC atas Banten, yang isinya:
1.      VOC berhak turut campur dalam urusan pemerintahan Banten
2.      VOC berhak penuh atas monopolli perdagangan lada di Banten dan Lampung
3.      Banten harus melepaskan wilayah Cirebon kepada VOC
4.      Banten harus menanggung biaya perang.
Dari perjanjian tersebut dapat dilihat bahwa pada saat itu komoditi lada tergolong penting sehingga menarik perhatian bagi bangsa Belanda. Oleh karena, pada Abad XVII  lada merupakan satu-satunya produk paling cocok untuk Eropa. Harga lada pada tahun 1662 mencapai empat real per pikul (ANRI, Bundel Palembang No. 62.2).

2.4       Kemunduran Perekonomian Kesutanan Banten
Kemunduran Kesultanan Banten sebagai bandar perdagangan internasional seiring dengan kekacauan politik didalam Kesultanan Banten, diantaranya perebutan kekuasaan, perang, keraton di ibu kota diserang dan dibumihanguskan oleh kompeni Belanda. Sesuai perjanjian maka Belanda mendirikan benteng di bekas benteng kesultanan dan diberi nama Speelwijk. Banten sebagai pusat kekuasaan dan kesultanan Banten mulai pudar. Banten yang menjadi pusat perrniagaan antar bangsa tertutup karena tidak ada kebebasan melaksanakan politik perdagangan, tertutup secara politis untuk mengadakan perjanjian-perjanjian dengan pihak manapun.  (Tjandrasasmita, Uka. Banten Sebagai Pusat Kekuasaan dan Niaga Antar Bangsa)
Keadaan demikian mempunyai akibat kemunduran kesejahteraan masyarakatnya dan rasa tidak puas terhadap bantuan kompeni Belanda. Pemberontakan yang merupakan perwujudan terhadap kebijaksanaan sultan-sultan Banten yang mudah melakukan kompromi dengan pihak Belanda. Pemberontakan demi pemberontakan akhirnya menghancurkan kemerdekaan kesultanan Banten, lebih-lebih setelah keratonnya dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1806 dan menyusulnya penghapusan kesultanan Banten menjadi Kabupaten Serang dan Caringin.













BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
            Kesultanan Banten merupakan negara maritim yang lebih mengutamakan pelayaran dan perdagangan. Disisi lain, sektor pertanian hanya sebagai unsur penunjang. kesultanan Banten bersifat terbuka terhadap bangsa yang singgah dipelabuhannya dan harus mematuhi peraturan yang dibuat oleh kesultanan. Keterbukaan tersebut memungkinkan bangsa Eropa dengan mudah masuk dan mencampuri urusan pemerintahan Banten. Sehingga timbullah perselisihan

Daftar Pustaka
            _.         Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutera; Kumpulan Makalah Diskusi. 1995. Jakarta. Depdikbud.
            Susanto, Noto Nugroho. 1981. Sejarah Nasional Indonesia II untuk SMA. Jakarta; PT. Balai Pustaka, Depdikbud.
            Djajadiningrat, Hoesein. 1944. Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten. Jakarta; Djambatan KITLV










SEJARAH PEREKONOMIAN
Perekonomian Kesultanan Banten
NAMA           :
Ani Rosadi
Maya Yunita
Cristya Hardianti
Ayu Zakiah Nurul C
Sarli Sunarya


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar