-->

BAB I
Latar Belakang
Jalur
sutera yang awalnya melalui dataran tinggi, terutama bagi China yang memperdagangkan ke Timur Tengah karena
berbagai rintangan. China tertarik pada wilayah Nanhai atau “Tanah di Laut
Selatan”, yaitu julukan yang diberikan kepada wilayah Asia Tenggara. Jalur
perdagangan mulai digantikan dengan jalur laut, kemudian abad ke-15 disusul
oleh India yang muncul sebagai pasar untuk pedagang China (Guy 1986;5)
Banten
menjadi kota pelabuhan jalan sutera yang penting, bahkan setelah kedatangan
Islam di daerah pesisir Banten telah ada jalur perdagangan. Awal mjula Banten
yang terletak di daerah pedalaman ditepian sungai Ci Banten. Sementara di
pesisir Banten menjadi semakin berkembang dengan perubahan pemerintahan dan
keagamaan Islam. Seperti di dalam Babad Banten setelah Hasanuddin wafat,
pemerintahan diambil alih oleh Maulana Yusuf. Tembok pertahanan kota, kampung
baru, sawah, ladang dan bendungan.
Ketika
Belanda tiba di Banten pada tahun 1596, Banten menjadi bandar perdagangan yang
penting. Kegiatan perekonomian yang berlangsung di Banten memiliki 3 pasar
sehari-hari tempat mereka menjual semua barang dagangan. Pasar pertama,
disebuah alun-alun sebelah timur kota,. Pada pagi hari banyak pedagang dari
berbagai macam bangsa seperti Portugis, Arab, Turki, China, Quilin, Pregu,
Melayu, Bengal, Gujarat, Abesinia dan India. Pasar kedua, pabean. Dan ketiga,
pasar di Pacina yang diadakan sebelum atau setelah pasar lain di selenggarakan.
(Rouffer dan Ijzerman 1915;110-113)
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
telah diuraikan sebelumnya, maka terdapat beberapa permasalahan pokok dalam
penulisan makalah ini, yaitu:
1.
Faktor apa saja yang
menjadikan Banten sebagai jalur sutera bagi para Pedagang ?
2.
Bagaimana pengaruh
perekonomian Banten pada masa Kolonial ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Faktor-faktor
yang menjadikan Banten sebagai Jalur Sutera
Banten
menjadi icon pelabuhan jalan sutera yang penting, bahkan setelah kedatangan Islam
di daerah pesisir Banten telah ada jalur perdagangan. Awal mjula Banten yang
terletak di daerah pedalaman ditepian sungai Ci Banten. Sementara di pesisir
Banten menjadi semakin berkembang dengan perubahan pemerintahan dan keagamaan
Islam.
Faktor Geografis
Letak
Banten yang sangat strategis memungkinkan banyaknya pedagang-pedagang yang
berasal dari bangsa lain, yaitu yang letaknya meliputi Jalur-jalur dagang
nusantara yang merupakan bagian jalur dagang Asia dan dunia.
Selain
itu, Banten juga dekat dengan Selat Sunda sehingga letak Banten sangat
strategis. Selat Sunda menjadi pintu masuk utama ke Nusantara bagian Timur
melewati pantai Barat Sumatera bagi pedagang muslim. Setelah jatuhnya Maalaka
ke tangan Portugis pada tahun 1511, pedagang Eropa datang dari ujung Selatan
Afrika dan Samudera Hindia. Seperti halnya kedatangan bangsa Belanda yang
memotong rute ujung Selatan dan menyebrangi samudera Hindia menuju Selat Sunda.
Faktor Agama:
Kesultanan banten dirintis pendirinya oleh tiga kekuatan yaitu Cirebon, Demak
dan Banten sendiri. Pelopornya masing-masing Susuhunan Jati, Fatahillah,dan
Maulana Hasanuddin awal abad ke-16. Sehingga berdirinya Kesultanan Banten
(Djajadiningrat, 1983;214)
2.2 Perkembangan Perekonomian di Banten
Perintis
juga di dukung oleh pedagang muslim baik dari Nusantara maupun luar Nusantara
sehingga pada perkembangan selanjutnya. Kesultanan Banten tampil sebagai negara
maritim dengan mengutamakan pelayaran dan perdagangan, sedangkan bidang
pertanian hanya sebagai unsur penunjang berupa pembukaan lahan sawah yang
ditanami padi pada masa pemerintahan Maulana Yusuf (1570-1580) dan pembukaan
lahan perkebunan lada (Djajadiningrat, 1983;219)
Berita
tahun 1513 menyebutkan bahwa Banten merupakan daerah pengekspor beras
(Cortejao, 1941:168) tetapi berita tahun 1596 bahwa beras didatangkan dari
rembang dan Makassar (Rouffaer dan Ig Zerman, 1915:110-113) dan juga dari
Benggala dan Pegu (Meilink-Roeloefsz, 1962:62)
Pembudidayan
tanaman padi agaknya memang dilakukan disekitar kota ini, seperti yang
dipaprkan babad Banten, pupuh XLVI. Menurut Djayadiningrat (1983:59), serang berarti sawah, seserangan berarti
pergi ke sawah. Tidak mustahil seserangan terletak di kota Serang sekarang.
Turun naiknya aktifitas penanaman padi berkaitan dengan aktifitas pasar.
Disebutkan banyak penduduk mengalihkan pertaniannya ke tanaman lada, bila
permintaan eksport tinggi (Chijs 1881:620). Sebaliknya jika permintaan menurun, penduduk menanam
bahan makanan misalnya padi, tebu dan sayur-sayuran (Meilink-Roeloefsz 196: 242
; Thandrasasmita 1976:56-7). Tanaman lain yang dibudayakan dan diperdagangkan
adalah cengkeh dan tembakau. Tidak mustahil keadaan ini menyebabkan produksi
beras menjadi tidak sebanding dengan kebutuhan penduduk, sehingga perlu
didatangkan dari luar.
Namun
dampak negatif dari penanaman padi yang dianggap berlebihan di kawasan pendalaman
telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang parah di Banten ini, seperti
terjadi percepatan pengendapan sehingga secara tidak langsung menyebabkan
kemunduran diberbagai bidang (Heriyanti, 1985).
Kegiatan
pelayaran dan perdagangan memang telah ada sebelumnya, pergantian penguasa
Banten dari penganut Hinduistis menjadi penganut Islam (sejak 1526)berdampak
positif dengan meningkatnya perdagangan pada mas itu. Aktifitas perdagangan
yang didominasi oleh pedagang muslim di nusantara. Hal itu diakui oleh Raja Sunda yang khawatir sehingga ia
membatasi pedagang muslim yang masuk ke pelabuhan selat Sunda. (Cortesao, II,
1949:173)
Kebijakan
terbuka dalam sistem ekonomi menjadikan Banten sebagai tempat transito
Internasional dari semua pedagang tanpa mengenal bangsa, agama maupun budaya.
Kebebasan keluar masuk pelabuhan Banten untuk melakukan kegiatan pelayaran dan
perdagangan, asalkan tidak melanggar peraturan (Djajadiningraat, 1985:89)
\
2.3 Pengaruh Perekonomian Banten pada masa
Kolonial
Pada
tahun 1595 Kompeni Dagang Amsterdam mengirimkan 4 buah kapal dagang yang
dipimpin oloeh Cornelis De Houtman. Tiga kapal diantaranya berhasil kembali kie
Tessel dengan penuh muatan rempah-rempah. Pada tanggal 14 agustus 1596 armada
dagang inilah yang pertama kali sampai di Banten. Armada dagang kedua yang
sampai di Indonesia adalah armada dagang yang dipimpin oleh Jacob van
Neck, Jacob van Heemskreck dan Wybrand
van Warwyck. Mulanya kedatangan mereka dicurigai, namun kemudiaan mereka
diterima dengan baik setelah menjelaskan vahwa kedatangannya hanya untuk
berdagang. Oleh karena itu Belanda dan banten membuat perjanjian persahabatan.
Persahabatan itu tidak berlangsung lama karena timbul persaaingan perdagangan
antara orang-orang Eropa yang berdgang di Banten. Namun orang-orang Belanda
cenderung bersifat kasar dan menimbulkan keonaran. Akibatnya beberapa orang
Belanda ditangkap oleh penguasa banten. Dan orang-orang Belanda membalas dengan
menembaki Banten dari kapal-kapal mereka. Dalam suasana permusuhan, orang
Belanda diusir dari Banten.
Sejak
berdirinya VOC, berbagai cara dilakukan dengan menguasai pelabuhan penting yang
ada di Indonesia. Belanda datang kembali untuk menjalin hubungan dagang. Ia
berupaya menghasut penguasa Banten. Sehingga upaya tersebut menghasilkan
perjanjian yang menegaskan kekuasaan VOC atas Banten, yang isinya:
1. VOC
berhak turut campur dalam urusan pemerintahan Banten
2. VOC
berhak penuh atas monopolli perdagangan lada di Banten dan Lampung
3. Banten
harus melepaskan wilayah Cirebon kepada VOC
4. Banten
harus menanggung biaya perang.
Dari
perjanjian tersebut dapat dilihat bahwa pada saat itu komoditi lada tergolong
penting sehingga menarik perhatian bagi bangsa Belanda. Oleh karena, pada Abad
XVII lada merupakan satu-satunya produk paling cocok untuk Eropa. Harga
lada pada tahun 1662 mencapai empat real per pikul (ANRI, Bundel Palembang No.
62.2).
2.4 Kemunduran Perekonomian Kesutanan Banten
Kemunduran
Kesultanan Banten sebagai bandar perdagangan internasional seiring dengan
kekacauan politik didalam Kesultanan Banten, diantaranya perebutan kekuasaan,
perang, keraton di ibu kota diserang dan dibumihanguskan oleh kompeni Belanda.
Sesuai perjanjian maka Belanda mendirikan benteng di bekas benteng kesultanan
dan diberi nama Speelwijk. Banten sebagai pusat kekuasaan dan kesultanan Banten
mulai pudar. Banten yang menjadi pusat perrniagaan antar bangsa tertutup karena
tidak ada kebebasan melaksanakan politik perdagangan, tertutup secara politis
untuk mengadakan perjanjian-perjanjian dengan pihak manapun. (Tjandrasasmita, Uka. Banten Sebagai Pusat Kekuasaan dan Niaga Antar Bangsa)
Keadaan
demikian mempunyai akibat kemunduran kesejahteraan masyarakatnya dan rasa tidak
puas terhadap bantuan kompeni Belanda. Pemberontakan yang merupakan perwujudan
terhadap kebijaksanaan sultan-sultan Banten yang mudah melakukan kompromi
dengan pihak Belanda. Pemberontakan demi pemberontakan akhirnya menghancurkan
kemerdekaan kesultanan Banten, lebih-lebih setelah keratonnya dihancurkan oleh
Daendels pada tahun 1806 dan menyusulnya penghapusan kesultanan Banten menjadi
Kabupaten Serang dan Caringin.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesultanan Banten
merupakan negara maritim yang lebih mengutamakan pelayaran dan perdagangan.
Disisi lain, sektor pertanian hanya sebagai unsur penunjang. kesultanan Banten
bersifat terbuka terhadap bangsa yang singgah dipelabuhannya dan harus mematuhi
peraturan yang dibuat oleh kesultanan. Keterbukaan tersebut memungkinkan bangsa
Eropa dengan mudah masuk dan mencampuri urusan pemerintahan Banten. Sehingga
timbullah perselisihan
Daftar Pustaka
_. Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutera; Kumpulan
Makalah Diskusi. 1995. Jakarta. Depdikbud.
Susanto, Noto Nugroho. 1981. Sejarah Nasional Indonesia II untuk SMA.
Jakarta; PT. Balai Pustaka, Depdikbud.
Djajadiningrat, Hoesein. 1944. Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten.
Jakarta; Djambatan KITLV
SEJARAH PEREKONOMIAN
Perekonomian Kesultanan Banten

NAMA :
Ani Rosadi
Maya Yunita
Cristya Hardianti
Ayu Zakiah Nurul C
Sarli Sunarya
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar