Senin, 18 Maret 2013

perekonomian Indonesia di masa VOC


SEJARAH PEREKONOMIAN
Perekonomian pada Masa VOC



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Perang Salib merupakan salah satu akibat terputusnya jalur perdagangan antara Eropa dan Asia yaitu jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki. Konstantinopel merupakan pintu gerbang masuknya para pedagang Eropa ke Asia atau sebaliknya. Dengan tertutupnya jalur tersebut mengakibatkan pendistribusian barang-barang dagangan dari Asia semakin langka di pasaran dan harganya semakin tinggi. Hal ini mendorong Bangsa Barat untuk mencari jalan menuju Timur. Indonesia yang merupakan negara dengan potensi sumber daya alam yang memadai, terutama rempah-rempah menjadi sasaran bangsa Barat untuk melakukan penjajahan yang menginginkan hasil bumi dunia Timur.
            Pada awal abad ke-16 Indonesia mulai dikuasai oleh orang-orang Eropa yang berusaha menanamkan kolonialisme dan imperialisme. Mulai dari negara Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan Jepang. Belanda merupakan salah satu negara dengan masa jajahan paling lama, hal ini tentu memberi pengaruh yang besar terhadap segala aspek kehidupan di Indonesia. Terutama dalam bidang perekonomian.
            Pada akhir abad ke-16 Perserikatan Propinsi-propinsi Negeri Belanda (yang paling penting adalah Holland dan Zeeland) sedang berada dibawah tekanan yang sangat besar untuk melebarkan sayap ke seberang lautan. Perang kemerdekaan melawan Spanyol yang berkobar pada tahun 1560-an dan baru berakhir tahun 1648 telah membawa perubahan besar. Persatuan antara raja Spanyol dan raja Portugal tahun 1580 mengacaukan jalur mereka untuk mendapatkan rempah-rempah. Hal ini justru semakin memperbesar keinginan mereka untuk mendapatkan sendiri rempah-rempah itu secara langsung dari Asia.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Awal Kedatangan Bangsa Belanda
Pada tahun 1595 ekspedisi pertama Belanda siap mengirimkan empat buah kapal dagang yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Pada bulan Juni 1596 kapal-kapal tersebut tiba di Banten, pelabuhan lada yang terbesar di Jawa Barat. Kemudian de Houtman mendapat perlawanan dari Portugis maupun dari rakyat pribumi. Ia meninggalkan Banten dan kemudian menyusuri  pantai Utara pulau Jawa. Di Sidayu, ia kembali mendapat perlawanan dari rakyat yang mengakibatkan hilangnya 12 anak buah dari de Houtman. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Belanda dengan membawa rempah-rempah yang cukup banyak.

2.2 Usaha Belanda dalam mendirikan Kongsi Dagangnya
Armada dagang kedua yang sampai di Indonesia adalah armada dagang yang dipimpin oleh Jacob Van Neck. Ia pertama kali tiba di “Kepulauan Rempah-rempah” yaitu, Maluku pada bulan Maret 1599, dimana rombongannya diterima dengan baik; kapal-kapalnya kembali ke negeri Belanda pada tahun 1599-1600 dengan mengangkut cukup bnyak rempah-rempah sehingga menghasilkan keuntungan sebanyak 400%. Hal itu mengakibatkan Belanda terus mengirimkan ekspidisinya ke Indonesia.
Pada waktu itu, ada empat perwakilan dagang Belanda yang bersaing di Banten; persaingan diseluruh wilayah Indonesia yang menghasilkan rempah-rempah itu menyebabkan naiknya harga dan bertambah banyaknya pengiriman ke Eropa, sehingga mengakibatkan semakin kecilnya keuntungan yang diperoleh.
Pada tahun 1600 orang-orang Belanda bergabung dengan penduduk Hitu dalam suatu persekutuan anti Portugis, dan untuk itu mereka mendapat imbalan yang berupa hak tunggal untuk membeli rempah-rempah dari Hitu. Pada tahun 1602 armada VOC mengulangi lagi persekutuannya dengan Hitu dan menyerang kubu pertahanan Portugis sehingga VOC berhasil menduduki pelabuhan di Ambon. Ambon terletak tepat dijantung wilayah penghasil rempah-rempah. Namun tempat ini tidak cocok dijadikan markas besar bagi VOC. Sehingga perhatian mereka beralih ke Selat Sunda (yang telah menjadi jalur perdagangan pantai Barat Sumatera, sejak semakin tidak amannya Selat Malaka setelah datangnya Bangsa Portugis).

2.3 Perekonomian pada Masa VOC
Untuk dapat bersaing dengan orang-orang Portugis dan menghindari persaingan antara pedagang-pedagang Belanda sendiri, pihak Belanda dalam bulan Maret 1602 membentuk Serikat Dagang Belanda di Hindia yang disebut Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Serikat dagang tersebut berwatak semi pemerintah. Badan itu dibantu, dipersenjatai dan dilindungi oleh pemerintah Belanda, yang pimpinan pusatnya ada pada Heren XVII dan merupakan satu-satunya serikat dagang yang boleh menjalankan dagang di Hindia. Persekutuan Dagang ini oleh pemerintah Belanda diberikan Hak Oktroi yang terdiri dari :
1)      Hak untuk dianggap sebagai wakil pemerintah Belanda di Indonesia
2)      Monopoli perdagangan
3)      Mencetak dan mengedarkan uang sendiri
4)      Mengadakan perjanjian dengan pihak lain
5)      Melakukan perang dengan negara lain
6)      Menjalankan kekuasaan kehakiman
7)      Pemungutan pajak
8)      Memiliki angkatan perang sendiri
9)      Mengadakan pemerintahan sendiri
Pada dasarnya, VOC mendapatkan banyak keuntungan dari hak monopoli yang didapatkannya. Menguntungkan atau tidak, benteng-benteng Belanda di Maluku terlalu terpencil letaknya untuk menjadi tempat yang sesuai bagi General Rendezvous (pertemuan umum) di Asia, sebagai yang disadari oleh Heren XVII sejak mula (Boxer,1983:30). Oleh karena itulah Coen dan Reael dalam bulan Mei 1619 menyerbu Batavia yang menjadi pilihan pusat VOC selanjutnya, karena di sekitar selat sunda angin-angin musim dan rute-rute perdagangan laut bertemu. Setelah berpusat di Batavia (sebelumnya Ambon), VOC melakukan perluasan kekuasaan serta campur tangan terhadap kerajaan-kerajaan di Indonesia, seperti Mataram, Banten, Banjar, Sumatra, Gowa (Makassar) serta Maluku. Akibat hak monopoli yang dimilikinya, VOC memaksakan kehendaknya sehingga menimbulkan perlawanan-perlawanan dari kerajaan-kerajaan Nusantara. Untuk menghadapi perlawanan-perlawanan bangsa Indonesia, VOC meningkatkan kekuatan militernya serta membangun benteng-benteng seperti di Ambon, Makassar, Jayakarta dan lain-lain (www.senduku.org). Untuk melaksanakan monopoli perdagangan tersebut, VOC mengambil beberapa cara atau tindakan sehingga didapatkan keuntungan yang maksimal, antara lain :
a.       Dengan melakukan Pelayaran Hongi untuk memberantas penyelundupan. Tindakan yang dilakukan VOC adalah merampas setiap kapal penduduk yang menjual langsung rempah-rempah kepada pedagang asing seperti Inggris, Prancis dan Denmark.
b.      Malakukan Ekstirpasi, yaitu penebangan tanaman milik rakyat untuk mempertahankan agar harga rempah-rempah tidak merosot bila hasil panen berlebihan (over produksi)
c.       Melakukan perjanjian-perjanjian dengan raja setempat, terutama yang kalah perang wajib menyerahkan hasil bumi yang diperlukan VOC dengan harga yang ditetapkan VOC. Penyerahan wajib ini dikenal dengan Verplichte Leverentien
d.      Rakyat wajib menyerahkan hasil bumi sebagai pajak (Contingenten).
Dampak positif yang ditimbulkan dari periode kekuasaan dan monopoli VOC di Indonesia bagi bangsa Indonesia sendiri adalah menempatkan hasil bumi Indonesia, terutama rempah-rempah sebagai komoditi yang sangat laku di pasaran Eropa sehingga semakin mudah untuk diperdagangkan. Sedangkan dampak negatifnya adalah adanya penindasan dalam bidang perdagangan, dimana melalui hak monopoli VOC, perdagangan di Nusantara tidak diberikan kebebasan karena pihak VOC mengantisipasinya lewat Pelayaran Hongi.
Selain itu, perekonomian rakyat yang dipandang merugikan VOC tidak dibiarkan berkembang dan langsung diatasi dengan Ekstirpasi, yaitu penebangan tanaman milik rakyat untuk mempertahankan agar harga rempah-rempah tidak merosot bila hasil panen berlebihan.
Sedangkan dampak positif dari pihak Belanda adalah dapat menikmati keuntungan yang sangat besar karena penerapan Hak Oktroi yang dimilikinya. Perdagangan tersebut mampu memberikan keuntungan bagi pengusaha swasta dan mengisi kas negeri Belanda. Namun, kita perlu ketahui bahwa orang-orang yang duduk dalam lembaga ini adalah pengusaha-pengusaha yang mempunyai tujuan utama untuk mendapatkan keuntungan. Oleh karena itu, banyak terjadi tindakan-tindakan korupsi di dalam lembaga tersebut sebagai akibat keinginan orang-orang yang duduk di dalamnya untuk menikmati keuntungan yang lebih besar. Akibatnya, VOC mempunyai hutang-hutang yang sangat besar yang tidak mampu untuk dibayar, sampai akhirnya mengalami pailit dan dibubarkan pada 31 Desember 1799. Oleh karena itu, hutang-hutang yang sebelumnya menjadi tanggungan VOC dilimpahkan kepada pemerintah negeri Belanda yang mengakibatkan kas pemerintah menjadi berkurang bahkan kosong.
Keruntuhan VOC disebabkan beberapa sebab, diantaranya:
a.Peperangan yang terus-menerus dilakukan oleh VOC dan memakan biaya besar, terutama perang Diponegoro
.b.Penggunaan tentara sewaan membutuhkan biaya besar.
c.Korupsi yang dilakukan pegawai VOC sendiri
d.Pembagian dividen kepada para pemegang saham, walaupun kas defisit.
Maka, VOC diambil-alih (digantikan) oleh republik Bataaf (Bataafsche Republiek).
Republik Bataaf dihadapkan pada suatu sistem keuangan yang kacau balau. Selain karena peperangan sedang berkecamuk di Eropa (Continental stelstel oleh Napoleon), kebobrokan bidang moneter sudah mencapai puncaknya sebagai akibat ketergantungan akan impor perak dari Belanda di masa VOC yang kini terhambat oleh blokade Inggris di Eropa (Sejarah Perekonomian Indonesia _ Online Buku.htm)
Menurut beberapa sumber kemunduran dan keruntuhan VOC antara lain dikarenakan oleh terlalu lama VOC mempertahankan monopoli dan timbulnya pesaing kuat dari Inggris , Perancis, Denmark terutama setelah kekalahan Belanda dalam perang dengan Inggris ( Burger,1962). Day (1972) menambahkan bahwa sistem akunting, operasi pemasaran yang sangat konservatif, merosotna etos kerja kepemimpian dan pengelolaan yang makin lama makin buruk , ikut memperburuk kondisi keuangan VOC pada masa akhir keberadaannya. Akibat dari lemahnya sistem kepemimpinan dan pengawasan tersebut adalah meningkatnya penyelundupan (smuggling), perdagangan gelap ( clandestein trade), serta meluasnya usaha pribadi yang memanfaatkan faslitas VOC (private busines) seperti pengiriman barang dagangan pribadi di dalam kapal – kapal VOC (Schrieke,1960; Semma,2008; Poesponegoro dan Notosusanto, 1990).
 Menjamurnya tindakan – tindakan yang menggerogoti VOC dari dalam tersebut menjadi semakin parah dengan merebaknya korupsi mulai dari para pegawai rendahan hingga pegawai tinggi, sebagai akibat adanya ”the insuffisient salaries” yang dirasakan para pegawai, mulai dari level rendah hingga level tinggi. tindakan yang menggerogoti eksistensi VOC, korupsilah yang paling menonjol. Sehingga Furnivall ( 1944) berpendapat ” it is not surprising then that the failure of the Company was attributed to corruption” sehingga dia mengatakan bahwa” V.O.C ( Vereenigde Oost –indische Compagnie ) were interpreted as Vergaan Onder Corruptie - perished by corruption ”. Kebobrokan pengelolaan ( maladministration) tersebut dilukiskan dengan warna ” hitam yang penuh horor ” oleh para penulis ekonomi aliran liberal. Pada tahun 1795 Octrooi VOC di cabut oleh Staten Generaal dan dengan fasal 247 Staatsregeling 1798 VOC dinyatakan bubar dengan ketidak mampuan membayar hutang – hutangnya. Pada waktu di bubarkan VOC menderita kerugian 134,7 juta gulden. Hak – milik dan hutang VOC akhirnya diambil alih secara resmi oleh pemerintah Belanda pada tanggal 1 Januari 1800 (file.edu.sejarah_korupsi.pdf).
.


BAB III
KESIMPULAN
 VOC dibentuk sebagai alat organisasi militer dan ekonomi sekaligus. Dengan perannya yang sangat penting tersebut, mengharuskan VOC dilengkapi dengan penguatan dasar hukum atas hak dan kewajiban yang bisa menjamin kesuksesan dalam menjalankan tugas - tuganya. Diharapkan dengan kekuatan yang dimilikinya, Belanda melalui VOC, bisa bertahan bahkan mengungguli kelompok – kelompok lain di Asia.
Namun kekuatan militer VOC yang semakin lemah mempengaruhi perdagangan, sehingga pertengahan abad 18 VOC sudah menuju kebangkrutan. Armada militer VOC dan kekuatannya di laut semakin lemah, sehingga sulit untuk melindungi wilayahnya dari para perompak. Dari beberapa sebab keruntuhan VOC, Korupsi telah menjadi penyebab utama keruntuhan VOC .

DAFTAR PUSTAKA

            Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: Gadjah Mada University Press.
http://adisanjaya24.blogspot.com/. (tanggal akses 12/03/2013)
file.edu.sejarah_korupsi.pdf
sejarah perekonomian Indonesia_Online Buku.htm.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar