SEJARAH PEREKONOMIAN
Perekonomian pada Masa VOC
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perang Salib merupakan salah satu
akibat terputusnya jalur perdagangan antara Eropa dan Asia yaitu jatuhnya
Konstantinopel ke tangan Turki. Konstantinopel merupakan pintu gerbang masuknya
para pedagang Eropa ke Asia atau sebaliknya. Dengan tertutupnya jalur tersebut
mengakibatkan pendistribusian barang-barang dagangan dari Asia semakin langka
di pasaran dan harganya semakin tinggi. Hal ini mendorong Bangsa Barat untuk
mencari jalan menuju Timur. Indonesia yang merupakan negara dengan potensi
sumber daya alam yang memadai, terutama rempah-rempah menjadi sasaran bangsa
Barat untuk melakukan penjajahan yang menginginkan hasil bumi dunia Timur.
Pada awal abad ke-16 Indonesia mulai
dikuasai oleh orang-orang Eropa yang berusaha menanamkan kolonialisme dan
imperialisme. Mulai dari negara Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan Jepang.
Belanda merupakan salah satu negara dengan masa jajahan paling lama, hal ini
tentu memberi pengaruh yang besar terhadap segala aspek kehidupan di Indonesia.
Terutama dalam bidang perekonomian.
Pada akhir abad ke-16 Perserikatan
Propinsi-propinsi Negeri Belanda (yang paling penting adalah Holland dan
Zeeland) sedang berada dibawah tekanan yang sangat besar untuk melebarkan sayap
ke seberang lautan. Perang kemerdekaan melawan Spanyol yang berkobar pada tahun
1560-an dan baru berakhir tahun 1648 telah membawa perubahan besar. Persatuan
antara raja Spanyol dan raja Portugal tahun 1580 mengacaukan jalur mereka untuk
mendapatkan rempah-rempah. Hal ini justru semakin memperbesar keinginan mereka
untuk mendapatkan sendiri rempah-rempah itu secara langsung dari Asia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Awal Kedatangan
Bangsa Belanda
Pada
tahun 1595 ekspedisi pertama Belanda siap mengirimkan empat buah kapal dagang
yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Pada bulan Juni 1596 kapal-kapal
tersebut tiba di Banten, pelabuhan lada yang terbesar di Jawa Barat. Kemudian
de Houtman mendapat perlawanan dari Portugis maupun dari rakyat pribumi. Ia meninggalkan
Banten dan kemudian menyusuri pantai
Utara pulau Jawa. Di Sidayu, ia kembali mendapat perlawanan dari rakyat yang
mengakibatkan hilangnya 12 anak buah dari de Houtman. Akhirnya ia memutuskan
untuk kembali ke Belanda dengan membawa rempah-rempah yang cukup banyak.
2.2 Usaha Belanda dalam
mendirikan Kongsi Dagangnya
Armada
dagang kedua yang sampai di Indonesia adalah armada dagang yang dipimpin oleh
Jacob Van Neck. Ia pertama kali tiba di “Kepulauan Rempah-rempah” yaitu, Maluku
pada bulan Maret 1599, dimana rombongannya diterima dengan baik; kapal-kapalnya
kembali ke negeri Belanda pada tahun 1599-1600 dengan mengangkut cukup bnyak
rempah-rempah sehingga menghasilkan keuntungan sebanyak 400%. Hal itu
mengakibatkan Belanda terus mengirimkan ekspidisinya ke Indonesia.
Pada
waktu itu, ada empat perwakilan dagang Belanda yang bersaing di Banten;
persaingan diseluruh wilayah Indonesia yang menghasilkan rempah-rempah itu
menyebabkan naiknya harga dan bertambah banyaknya pengiriman ke Eropa, sehingga
mengakibatkan semakin kecilnya keuntungan yang diperoleh.
Pada
tahun 1600 orang-orang Belanda bergabung dengan penduduk Hitu dalam suatu
persekutuan anti Portugis, dan untuk itu mereka mendapat imbalan yang berupa
hak tunggal untuk membeli rempah-rempah dari Hitu. Pada tahun 1602 armada VOC
mengulangi lagi persekutuannya dengan Hitu dan menyerang kubu pertahanan
Portugis sehingga VOC berhasil menduduki pelabuhan di Ambon. Ambon terletak
tepat dijantung wilayah penghasil rempah-rempah. Namun tempat ini tidak cocok
dijadikan markas besar bagi VOC. Sehingga perhatian mereka beralih ke Selat
Sunda (yang telah menjadi jalur perdagangan pantai Barat Sumatera, sejak
semakin tidak amannya Selat Malaka setelah datangnya Bangsa Portugis).
2.3 Perekonomian pada
Masa VOC
Untuk
dapat bersaing dengan orang-orang Portugis dan menghindari persaingan antara
pedagang-pedagang Belanda sendiri, pihak Belanda dalam bulan Maret 1602
membentuk Serikat Dagang Belanda di Hindia yang disebut Vereenigde
Oost-Indische Compagnie (VOC). Serikat dagang tersebut berwatak semi
pemerintah. Badan itu dibantu, dipersenjatai dan dilindungi oleh pemerintah
Belanda, yang pimpinan pusatnya ada pada Heren XVII dan merupakan satu-satunya
serikat dagang yang boleh menjalankan dagang di Hindia. Persekutuan Dagang ini
oleh pemerintah Belanda diberikan Hak Oktroi yang terdiri dari :
1) Hak
untuk dianggap sebagai wakil pemerintah Belanda di Indonesia
2) Monopoli
perdagangan
3) Mencetak
dan mengedarkan uang sendiri
4) Mengadakan
perjanjian dengan pihak lain
5) Melakukan
perang dengan negara lain
6) Menjalankan
kekuasaan kehakiman
7) Pemungutan
pajak
8) Memiliki
angkatan perang sendiri
9) Mengadakan
pemerintahan sendiri
Pada
dasarnya, VOC mendapatkan banyak keuntungan dari hak monopoli yang
didapatkannya. Menguntungkan atau tidak, benteng-benteng Belanda di Maluku
terlalu terpencil letaknya untuk menjadi tempat yang sesuai bagi General
Rendezvous (pertemuan umum) di Asia, sebagai yang disadari oleh Heren XVII
sejak mula (Boxer,1983:30). Oleh
karena itulah Coen dan Reael dalam bulan Mei 1619 menyerbu Batavia yang menjadi
pilihan pusat VOC selanjutnya, karena di sekitar selat sunda angin-angin musim
dan rute-rute perdagangan laut bertemu. Setelah berpusat di Batavia (sebelumnya
Ambon), VOC melakukan perluasan kekuasaan serta campur tangan terhadap
kerajaan-kerajaan di Indonesia, seperti Mataram, Banten, Banjar, Sumatra, Gowa
(Makassar) serta Maluku. Akibat hak monopoli yang dimilikinya, VOC memaksakan
kehendaknya sehingga menimbulkan perlawanan-perlawanan dari kerajaan-kerajaan
Nusantara. Untuk menghadapi perlawanan-perlawanan bangsa Indonesia, VOC
meningkatkan kekuatan militernya serta membangun benteng-benteng seperti di
Ambon, Makassar, Jayakarta dan lain-lain (www.senduku.org).
Untuk melaksanakan monopoli perdagangan tersebut, VOC mengambil beberapa cara
atau tindakan sehingga didapatkan keuntungan yang maksimal, antara lain :
a. Dengan
melakukan Pelayaran Hongi untuk memberantas penyelundupan. Tindakan yang
dilakukan VOC adalah merampas setiap kapal penduduk yang menjual langsung
rempah-rempah kepada pedagang asing seperti Inggris, Prancis dan Denmark.
b. Malakukan
Ekstirpasi, yaitu penebangan tanaman milik rakyat untuk mempertahankan agar
harga rempah-rempah tidak merosot bila hasil panen berlebihan (over produksi)
c. Melakukan
perjanjian-perjanjian dengan raja setempat, terutama yang kalah perang wajib
menyerahkan hasil bumi yang diperlukan VOC dengan harga yang ditetapkan VOC.
Penyerahan wajib ini dikenal dengan Verplichte Leverentien
d. Rakyat
wajib menyerahkan hasil bumi sebagai pajak (Contingenten).
Dampak
positif yang ditimbulkan dari periode kekuasaan dan monopoli VOC di Indonesia
bagi bangsa Indonesia sendiri adalah menempatkan hasil bumi Indonesia, terutama
rempah-rempah sebagai komoditi yang sangat laku di pasaran Eropa sehingga
semakin mudah untuk diperdagangkan. Sedangkan dampak negatifnya adalah adanya
penindasan dalam bidang perdagangan, dimana melalui hak monopoli VOC,
perdagangan di Nusantara tidak diberikan kebebasan karena pihak VOC mengantisipasinya
lewat Pelayaran Hongi.
Selain
itu, perekonomian rakyat yang dipandang merugikan VOC tidak dibiarkan
berkembang dan langsung diatasi dengan Ekstirpasi, yaitu penebangan tanaman
milik rakyat untuk mempertahankan agar harga rempah-rempah tidak merosot bila
hasil panen berlebihan.
Sedangkan
dampak positif dari pihak Belanda adalah dapat menikmati keuntungan yang sangat
besar karena penerapan Hak Oktroi yang dimilikinya. Perdagangan tersebut mampu
memberikan keuntungan bagi pengusaha swasta dan mengisi kas negeri Belanda.
Namun, kita perlu ketahui bahwa orang-orang yang duduk dalam lembaga ini adalah
pengusaha-pengusaha yang mempunyai tujuan utama untuk mendapatkan keuntungan.
Oleh karena itu, banyak terjadi tindakan-tindakan korupsi di dalam lembaga
tersebut sebagai akibat keinginan orang-orang yang duduk di dalamnya untuk
menikmati keuntungan yang lebih besar. Akibatnya, VOC mempunyai hutang-hutang
yang sangat besar yang tidak mampu untuk dibayar, sampai akhirnya mengalami
pailit dan dibubarkan pada 31 Desember 1799. Oleh karena itu, hutang-hutang
yang sebelumnya menjadi tanggungan VOC dilimpahkan kepada pemerintah negeri
Belanda yang mengakibatkan kas pemerintah menjadi berkurang bahkan kosong.
Keruntuhan
VOC disebabkan beberapa sebab, diantaranya:
a.Peperangan
yang terus-menerus dilakukan oleh VOC dan memakan biaya besar, terutama perang
Diponegoro
.b.Penggunaan
tentara sewaan membutuhkan biaya besar.
c.Korupsi
yang dilakukan pegawai VOC sendiri
d.Pembagian
dividen kepada para pemegang saham, walaupun kas defisit.
Maka, VOC diambil-alih (digantikan) oleh republik Bataaf (Bataafsche Republiek).
Republik Bataaf dihadapkan pada suatu sistem keuangan yang kacau balau. Selain karena peperangan sedang berkecamuk di Eropa (Continental stelstel oleh Napoleon), kebobrokan bidang moneter sudah mencapai puncaknya sebagai akibat ketergantungan akan impor perak dari Belanda di masa VOC yang kini terhambat oleh blokade Inggris di Eropa (Sejarah Perekonomian Indonesia _ Online Buku.htm)
Maka, VOC diambil-alih (digantikan) oleh republik Bataaf (Bataafsche Republiek).
Republik Bataaf dihadapkan pada suatu sistem keuangan yang kacau balau. Selain karena peperangan sedang berkecamuk di Eropa (Continental stelstel oleh Napoleon), kebobrokan bidang moneter sudah mencapai puncaknya sebagai akibat ketergantungan akan impor perak dari Belanda di masa VOC yang kini terhambat oleh blokade Inggris di Eropa (Sejarah Perekonomian Indonesia _ Online Buku.htm)
Menurut
beberapa sumber kemunduran dan keruntuhan VOC antara lain dikarenakan oleh
terlalu lama VOC mempertahankan monopoli dan timbulnya pesaing kuat dari
Inggris , Perancis, Denmark terutama setelah kekalahan Belanda dalam perang
dengan Inggris ( Burger,1962). Day (1972) menambahkan bahwa sistem akunting,
operasi pemasaran yang sangat konservatif, merosotna etos kerja kepemimpian dan
pengelolaan yang makin lama makin buruk , ikut memperburuk kondisi keuangan VOC
pada masa akhir keberadaannya. Akibat dari lemahnya sistem kepemimpinan dan
pengawasan tersebut adalah meningkatnya penyelundupan (smuggling), perdagangan
gelap ( clandestein trade), serta meluasnya usaha pribadi yang
memanfaatkan faslitas VOC (private busines) seperti pengiriman barang
dagangan pribadi di dalam kapal – kapal VOC (Schrieke,1960; Semma,2008; Poesponegoro
dan Notosusanto, 1990).
Menjamurnya tindakan – tindakan yang
menggerogoti VOC dari dalam tersebut menjadi semakin parah dengan merebaknya
korupsi mulai dari para pegawai rendahan hingga pegawai tinggi, sebagai akibat
adanya ”the insuffisient salaries” yang dirasakan para pegawai, mulai
dari level rendah hingga level tinggi. tindakan yang menggerogoti eksistensi
VOC, korupsilah yang paling menonjol. Sehingga Furnivall ( 1944) berpendapat ” it
is not surprising then that the failure of the Company was attributed to
corruption” sehingga dia mengatakan bahwa” V.O.C ( Vereenigde Oost
–indische Compagnie ) were interpreted as Vergaan Onder Corruptie - perished by
corruption ”. Kebobrokan pengelolaan ( maladministration) tersebut
dilukiskan dengan warna ” hitam yang penuh horor ” oleh para penulis ekonomi
aliran liberal. Pada tahun 1795 Octrooi VOC di cabut oleh Staten Generaal dan
dengan fasal 247 Staatsregeling 1798 VOC dinyatakan bubar dengan ketidak
mampuan membayar hutang – hutangnya. Pada waktu di bubarkan VOC menderita
kerugian 134,7 juta gulden. Hak – milik dan hutang VOC akhirnya diambil alih
secara resmi oleh pemerintah Belanda pada tanggal 1 Januari 1800
(file.edu.sejarah_korupsi.pdf).
.
BAB III
KESIMPULAN
VOC dibentuk sebagai
alat organisasi militer dan ekonomi sekaligus. Dengan perannya yang sangat
penting tersebut, mengharuskan VOC dilengkapi dengan penguatan dasar hukum atas
hak dan kewajiban yang bisa menjamin kesuksesan dalam menjalankan tugas -
tuganya. Diharapkan dengan kekuatan yang dimilikinya, Belanda melalui VOC, bisa
bertahan bahkan mengungguli kelompok – kelompok lain di Asia.
Namun
kekuatan militer VOC yang semakin lemah mempengaruhi perdagangan, sehingga
pertengahan abad 18 VOC sudah menuju kebangkrutan. Armada militer VOC dan kekuatannya
di laut semakin lemah, sehingga sulit untuk melindungi wilayahnya dari para
perompak. Dari beberapa sebab keruntuhan VOC, Korupsi telah menjadi penyebab
utama keruntuhan VOC .
DAFTAR PUSTAKA
Ricklefs,
M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Jakarta:
Gadjah Mada University Press.
http://adisanjaya24.blogspot.com/.
(tanggal akses 12/03/2013)
file.edu.sejarah_korupsi.pdf
sejarah
perekonomian Indonesia_Online Buku.htm.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar