Sabtu, 06 April 2013

di kereta Api




 nih FF terinspirasi dari lagu YUI_Tokyo..
 minna bisa kunjungi ntuh link nya lengkap untuk lirik lagu YUI tentunya..
happy reading,,
Yui-TOKYO
Tlah tiba harinya, ketika aku akan meninggalkan ruangan yang biasa kutempati...
Aku masih galau dengan perjalanan baruku itu...


Di dalam bis menuju stasiun...
Kukirimkan pesan pada temanku...


Di peron, pagi itu...aku pun mencoba menelpon...
Namun kurasakan sesuatu yang berbeda...


Kubawa sebuah gitar tua bersamaku...
Dan kutinggalkan semua fotoku...


Melepaskan sesuatu pergi dan kemudian meraih sesuatu yang baru...
Apakah siklus yang sama akan terulang?


Saat aku berpura-pura tegar, aku teringat mimpiku...
Jika kubiarkan diriku menjadi pengecut...mimpi itu berakhir...


Ketika kereta mulai melaju...
Aku menangis sedikit...


Aku berharap jalan yang membentang di luar jendela tak berubah...


Ia yang memberiku gitar tua itu...
Mengatakan kalau Tokyo itu menakutkan...


Aku sudah tak mempertanyakannya lagi...
Tak masalah jika aku membuat suatu kekeliruan...


Langit senja merah terhalang gedung-dedung tinggi...
Aku menahan air mataku...


Namun...awal dari setiap pagi yang baru...
Akan membawa kegalauan bagiku, bukan?


Aku tak bisa hanya memilih hal yang (orang pikir) baik...
Itu yang ku tahu...

Yui POV


aku terbangun ketika alarm berbunyi, alarm menunjukkan pukul 3 dinihari. Dengan cekatan aku menuju dapur membuat teh hangat setelah aku membersihkan muka. Sedikit tergesa-gesa, aku menyiapkan sarapan pagi, ya, walaupun hanya roti yang diolesi selai coklat. Sesekali aku melirik jam, makin ku percepat mengunyah hingga menyumbat tenggorokan, ku seruput teh sedikit-demi sedikit. Berpikir sejenak, mengingat jadwal keberangkatan kereta pukul 6 pagi ini. Secepat kilat, aku sambar handuk yang tak jauh dari tempatku berdiri. entah mengapa aku merasa tak ingin melewatkan barang sedetikpun,  biasanya aku tak pernah sepanik ini.
setelah selesai bersiap-siap, tak lupa aku memeriksa koper yang akan aku bawa, tak jauh darinya sebuah gitar tua, hadiah dari seseorang. aku merasa ada yang kurang, dan ya, handphoneku, aku hampir melupakannya. Tapi aku kebingungan karena aku lupa menaruhnya dimana, aku mulai panik, mencari di kasur, di meja, semua telah aku cari, Sekali lagi aku melirik jam di tangan kiriku, Masih sekitar 1 jam lebih. Aku hampir menangis, aku merasa putus asa sekarang.
Suara berdering dari handphone sebagai penyelamatku pagi ini, aku menuju arah suara, dan ternyata handphoneku tergeletak di atas kursi tua. Aku baru ingat semalaman aku menaruhnya di kursi ketika aku asyik bermain gitar. Sebuah pesan dari temanku, senyum mengembang saat aku membaca pesannya.
Aku edarkan pandanganku keseluruh kamarku, beberapa foto terpampang di dinding kamar dengan warna catnya yang memudar dimakan usia, beberapa tempelan catatan, kasur empuk yang selalu aku gunakan untuk melanjutkan mimpi, sering juga aku menangis di kamar ini, membuat lagu, bermain gitar, cermin kecil terletak tak jauh, semua menjadi saksi bisu perjalananku selama ini.
Kini akan aku tinggalkan semua, karena aku akan berada di kamar baru yang akan mengukir perjalanan baruku. Selamat tinggal kamarku, suatu saat aku akan menjengukmu, bersama, kita  mengingat masa-masa indah yang terukir disini.
Bis telah mengantarkanku ke gerbang stasiun. jantungku berdetak lebih cepat, bersamaan dengan langkahku. Orang-orang berlalu lalang memadati stasiun, aku mempercepat langkah menuju loket. Setelah karcis ditangan, aku merasa sedikit lega, kemudian aku telah berada di dalam kereta, menyusuri gerbong kereta menuju nomor kursi yang tertera dalam karcis.
aKu teringat pesan temanku, jika aku sudah di dalam kereta, aku akan menghubunginya. Aku merogoh handphone di saku jaketku, aku sedikit ragu-ragu namun sedetik kemudian aku menelponnya.
“hallo.” gumamku, aku berharap banyak, ia akan menjawabku.
“hallo yui, apa kau sudah di dalam kereta??” Terdengar suara yang sangat aku kenal. Suaranya terdengar penuh semangat. Membuatku sedikit merinding.
“ya, aku sudah duduk tenang disini.” jawabku pelan, hatiku deg-degan tak karuan, aku merasa tubuhku panas dingin bahkan aku gemetar.
“syukurlah. Tapi kau baik-baik saja kan, suaramu berubah, Apa kau sakit??” dia yang selalu mengkhawatirkan aku, kini aku akan meninggalkannya. Aku Bahkan ingin menangis.
 “aku baik- baik saja, hanya, aku sedikit gugup sekarang. Tiba-tiba saja aku, aku ingin, menyerah...” napasku sesak menahan air mata, namun telah mengalir hangat membasahi pipi. Aku mengigit bibirku mencoba untuk tidak terisak, aku tak mau dia tahu bahwa aku menangis sekarang.
“aku tahu, ini sulit untuk kau lalui, tapi kau tak boleh menyerah. Aku akan memberitahumu suatu hal, Tokyo tak selamanya menakutkan, yakinlah! kau pasti bisa menaklukkan Tokyo. wujudkan mimpimu selama ini, jangan pernah menyerah, ok!” katanya menyemangatiku.
“terima kasih. kau temanku yang paling baik..”  aku terdiam cukup lama, air mataku deras mengalir. Aku tak kuat untuk berkata-kata, aku tak tahu harus bilang apa lagi.
 “maaf, aku tak bisa mengantarmu langsung. Walaupun aku ingin sekali, tapi kau tahu, pekerjaanku tak memberiku waktu luang. Aku disini, terus mendoakan mu. semoga perjalananmu menyenangkan! Jangan lupa, Kabari aku jika kau telah tiba disana. Maaf, aku harus kembali bekerja, Aku tutup dulu telponnya.”
Sedetik kemudian dia memutuskan telepon, aku hanya terpaku menatap layar handphoneku. aku belum puas berbicara padanya, aku beralih menatap jendela, terpantul bayangan wajahku. Aku mengusap pelan airmataku, aku tak akan bersedih lagi, aku harus tersenyum. Seperti katanya aku tak boleh menyerah. semangat yui !!
 kereta mulai melaju perlahan, meninggalkan kota tempatku dilahirkan. Pandanganku jatuh menatap pemandangan diluar jendela, berharap tak berubah sama sekali. Aku ingin merekamnya dalam memory ku, aku tak mau melewatkan sedetikpun pemandangan yang indah ini. walaupun aku juga tak tahu apa yang akan Tuhan rencanakan nanti, aku hanya berharap jalan yang akan aku lalui ini, dapat membawaku mewujudkan semua mimpiku. Semoga.

Author pov


Kereta telah berangkat, suasana stasiun tak sepadat sebelumnya. Beberapa orang duduk-duduk menunggu kereta selanjutnya, tapi tidak untuk laki-laki itu. Laki-laki itu berlari-lari kecil mengejar kereta yang tengah melaju. Kereta melaju cepat semakin jauh darinya, sementara ia tak akan sanggup mengejarnya, Kemudian ia memilih berhenti dan berdiri mematung, tak jauh dari sana.
Pandangannya tak lepas semenjak keberangkatan kereta tersebut. Raut wajah sedih terlihat jelas diwajahnya, kemudian pandangannya beralih di handphone yang sedari tadi ia genggam erat. “yui, jangan lupakan aku.” gumamnya.
Dalam hatinya berbicara, “Jujur, aku ingin kau tidak pergi, tetaplah disisiku. Tapi demi semua mimpi mu, aku tak akan menjadi penghalangmu.  Maaf aku berbohong padamu, bukannya aku tak mau bertemu denganmu untuk terakhir kali sebelum kau pergi. Aku tidak ingin, kau melihatku tersenyum dalam wajah yang menangis. Ataupun melihatmu menangis di hadapanku,  tentu itu akan membuatku berat melepasmu. Aku tak ingin merusak langkah awalmu dengan kenangan yang buruk. Biarlah terpisah dengan cara seperti ini. aku yakin, suatu saat kita akan bertemu dengan kenangan yang indah. Tuhan , jaga ia untukku.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar