nih FF terinspirasi dari lagu YUI_Tokyo..
minna bisa kunjungi ntuh link nya lengkap untuk lirik lagu YUI tentunya..
happy reading,,
Yui-TOKYO
Tlah tiba harinya, ketika aku akan meninggalkan ruangan yang
biasa kutempati...
Aku masih galau dengan perjalanan baruku itu...
Di dalam bis menuju stasiun...
Kukirimkan pesan pada temanku...
Di peron, pagi itu...aku pun mencoba menelpon...
Namun kurasakan sesuatu yang berbeda...
Kubawa sebuah gitar tua bersamaku...
Dan kutinggalkan semua fotoku...
Melepaskan sesuatu pergi dan kemudian meraih sesuatu yang baru...
Apakah siklus yang sama akan terulang?
Saat aku berpura-pura tegar, aku teringat mimpiku...
Jika kubiarkan diriku menjadi pengecut...mimpi itu berakhir...
Ketika kereta mulai melaju...
Aku menangis sedikit...
Aku berharap jalan yang membentang di luar jendela tak berubah...
Ia yang memberiku gitar tua itu...
Mengatakan kalau Tokyo itu menakutkan...
Aku sudah tak mempertanyakannya lagi...
Tak masalah jika aku membuat suatu kekeliruan...
Langit senja merah terhalang gedung-dedung tinggi...
Aku menahan air mataku...
Namun...awal dari setiap pagi yang baru...
Akan membawa kegalauan bagiku, bukan?
Aku tak bisa hanya memilih hal yang (orang pikir) baik...
Itu yang ku tahu...
Aku masih galau dengan perjalanan baruku itu...
Di dalam bis menuju stasiun...
Kukirimkan pesan pada temanku...
Di peron, pagi itu...aku pun mencoba menelpon...
Namun kurasakan sesuatu yang berbeda...
Kubawa sebuah gitar tua bersamaku...
Dan kutinggalkan semua fotoku...
Melepaskan sesuatu pergi dan kemudian meraih sesuatu yang baru...
Apakah siklus yang sama akan terulang?
Saat aku berpura-pura tegar, aku teringat mimpiku...
Jika kubiarkan diriku menjadi pengecut...mimpi itu berakhir...
Ketika kereta mulai melaju...
Aku menangis sedikit...
Aku berharap jalan yang membentang di luar jendela tak berubah...
Ia yang memberiku gitar tua itu...
Mengatakan kalau Tokyo itu menakutkan...
Aku sudah tak mempertanyakannya lagi...
Tak masalah jika aku membuat suatu kekeliruan...
Langit senja merah terhalang gedung-dedung tinggi...
Aku menahan air mataku...
Namun...awal dari setiap pagi yang baru...
Akan membawa kegalauan bagiku, bukan?
Aku tak bisa hanya memilih hal yang (orang pikir) baik...
Itu yang ku tahu...
Yui POV
aku terbangun ketika
alarm berbunyi, alarm menunjukkan pukul 3 dinihari. Dengan cekatan aku menuju dapur
membuat teh hangat setelah aku membersihkan muka. Sedikit tergesa-gesa, aku
menyiapkan sarapan pagi, ya, walaupun hanya roti yang diolesi selai coklat.
Sesekali aku melirik jam, makin ku percepat mengunyah hingga menyumbat
tenggorokan, ku seruput teh sedikit-demi sedikit. Berpikir sejenak, mengingat
jadwal keberangkatan kereta pukul 6 pagi ini. Secepat kilat, aku sambar handuk
yang tak jauh dari tempatku berdiri. entah mengapa aku merasa tak ingin
melewatkan barang sedetikpun, biasanya
aku tak pernah sepanik ini.
setelah selesai
bersiap-siap, tak lupa aku memeriksa koper yang akan aku bawa, tak jauh darinya
sebuah gitar tua, hadiah dari seseorang. aku merasa ada yang kurang, dan ya, handphoneku,
aku hampir melupakannya. Tapi aku kebingungan karena aku lupa menaruhnya
dimana, aku mulai panik, mencari di kasur, di meja, semua telah aku cari,
Sekali lagi aku melirik jam di tangan kiriku, Masih sekitar 1 jam lebih. Aku hampir
menangis, aku merasa putus asa sekarang.
Suara berdering dari
handphone sebagai penyelamatku pagi ini, aku menuju arah suara, dan ternyata
handphoneku tergeletak di atas kursi tua. Aku baru ingat semalaman aku
menaruhnya di kursi ketika aku asyik bermain gitar. Sebuah pesan dari temanku,
senyum mengembang saat aku membaca pesannya.
Aku edarkan
pandanganku keseluruh kamarku, beberapa foto terpampang di dinding kamar dengan
warna catnya yang memudar dimakan usia, beberapa tempelan catatan, kasur empuk
yang selalu aku gunakan untuk melanjutkan mimpi, sering juga aku menangis di
kamar ini, membuat lagu, bermain gitar, cermin kecil terletak tak jauh, semua menjadi
saksi bisu perjalananku selama ini.
Kini akan aku
tinggalkan semua, karena aku akan berada di kamar baru yang akan mengukir
perjalanan baruku. Selamat tinggal kamarku, suatu saat aku akan menjengukmu,
bersama, kita mengingat masa-masa indah
yang terukir disini.
Bis telah
mengantarkanku ke gerbang stasiun. jantungku berdetak lebih cepat, bersamaan
dengan langkahku. Orang-orang berlalu lalang memadati stasiun, aku mempercepat
langkah menuju loket. Setelah karcis ditangan, aku merasa sedikit lega,
kemudian aku telah berada di dalam kereta, menyusuri gerbong kereta menuju
nomor kursi yang tertera dalam karcis.
aKu teringat pesan
temanku, jika aku sudah di dalam kereta, aku akan menghubunginya. Aku merogoh
handphone di saku jaketku, aku sedikit ragu-ragu namun sedetik kemudian aku
menelponnya.
“hallo.” gumamku,
aku berharap banyak, ia akan menjawabku.
“hallo yui, apa
kau sudah di dalam kereta??” Terdengar suara yang sangat aku kenal. Suaranya
terdengar penuh semangat. Membuatku sedikit merinding.
“ya, aku sudah
duduk tenang disini.” jawabku pelan, hatiku deg-degan tak karuan, aku merasa
tubuhku panas dingin bahkan aku gemetar.
“syukurlah. Tapi
kau baik-baik saja kan, suaramu berubah, Apa kau sakit??” dia yang selalu mengkhawatirkan
aku, kini aku akan meninggalkannya. Aku Bahkan ingin menangis.
“aku baik- baik saja, hanya, aku sedikit gugup
sekarang. Tiba-tiba saja aku, aku ingin, menyerah...” napasku sesak menahan air
mata, namun telah mengalir hangat membasahi pipi. Aku mengigit bibirku mencoba
untuk tidak terisak, aku tak mau dia tahu bahwa aku menangis sekarang.
“aku tahu, ini sulit
untuk kau lalui, tapi kau tak boleh menyerah. Aku akan memberitahumu suatu hal,
Tokyo tak selamanya menakutkan, yakinlah! kau pasti bisa menaklukkan Tokyo. wujudkan
mimpimu selama ini, jangan pernah menyerah, ok!” katanya menyemangatiku.
“terima kasih. kau
temanku yang paling baik..” aku terdiam
cukup lama, air mataku deras mengalir. Aku tak kuat untuk berkata-kata, aku tak
tahu harus bilang apa lagi.
“maaf, aku tak bisa mengantarmu langsung.
Walaupun aku ingin sekali, tapi kau tahu, pekerjaanku tak memberiku waktu
luang. Aku disini, terus mendoakan mu. semoga perjalananmu menyenangkan! Jangan
lupa, Kabari aku jika kau telah tiba disana. Maaf, aku harus kembali bekerja,
Aku tutup dulu telponnya.”
Sedetik kemudian
dia memutuskan telepon, aku hanya terpaku menatap layar handphoneku. aku belum
puas berbicara padanya, aku beralih menatap jendela, terpantul bayangan
wajahku. Aku mengusap pelan airmataku, aku tak akan bersedih lagi, aku harus
tersenyum. Seperti katanya aku tak boleh menyerah. semangat yui !!
kereta mulai melaju perlahan, meninggalkan
kota tempatku dilahirkan. Pandanganku jatuh menatap pemandangan diluar jendela,
berharap tak berubah sama sekali. Aku ingin merekamnya dalam memory ku, aku tak
mau melewatkan sedetikpun pemandangan yang indah ini. walaupun aku juga tak
tahu apa yang akan Tuhan rencanakan nanti, aku hanya berharap jalan yang akan
aku lalui ini, dapat membawaku mewujudkan semua mimpiku. Semoga.
Author pov
Kereta telah berangkat, suasana
stasiun tak sepadat sebelumnya. Beberapa orang duduk-duduk menunggu kereta
selanjutnya, tapi tidak untuk laki-laki itu. Laki-laki itu berlari-lari kecil
mengejar kereta yang tengah melaju. Kereta melaju cepat semakin jauh darinya,
sementara ia tak akan sanggup mengejarnya, Kemudian ia memilih berhenti dan
berdiri mematung, tak jauh dari sana.
Pandangannya tak lepas semenjak
keberangkatan kereta tersebut. Raut wajah sedih terlihat jelas diwajahnya,
kemudian pandangannya beralih di handphone yang sedari tadi ia genggam erat.
“yui, jangan lupakan aku.” gumamnya.
Dalam hatinya berbicara, “Jujur,
aku ingin kau tidak pergi, tetaplah disisiku. Tapi demi semua mimpi mu, aku tak
akan menjadi penghalangmu. Maaf aku
berbohong padamu, bukannya aku tak mau bertemu denganmu untuk terakhir kali
sebelum kau pergi. Aku tidak ingin, kau melihatku tersenyum dalam wajah yang
menangis. Ataupun melihatmu menangis di hadapanku, tentu itu akan membuatku berat melepasmu. Aku
tak ingin merusak langkah awalmu dengan kenangan yang buruk. Biarlah terpisah
dengan cara seperti ini. aku yakin, suatu saat kita akan bertemu dengan
kenangan yang indah. Tuhan , jaga ia untukku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar